Senin, 30 April 2012

Pohon Cinta

tubuhmu bagaikan sebuah pohon cinta
rambut panjangmu bagaikan daun dan ranting yang lebat
hidung mu bagaikan ranting tanpa daun
mulutmu adalah lubang dalam batang

namun dirimu hanya memiliki dua buah segar yang besar
dengan tangkai hitam kecil dipucuknya
ingin sekali ku pegang buah itu
terasa hangat menyengat
namun apa daya buah itu tak bisa dipetik
hanya bisa dinimati oleh pandang mata

di bagian bawah pohon cintamu
terdapat daun dan sedikit rerumputan yang menempel
saat aku pegang ternyata itu lubang
entah mengapa semakin dalam ku pegang lubang itu semakin lembab

aku mulai bernapsu untuk memanjati pohon cintamu
namun apadaya pohon itu terlalu tinggi
aku tak bermodal untuk membeli tangga

kulihat disana ada kera yang akan menyerang pohon mu
memetik buah mu dan masuk ke lubang mu
aku cemburu pada kera - kera itu
seandainya kau tau
hati ku tak sepeti kera itu
tentu kau akan meberikan indah pohon mu untuk ku

By : Septo Isdi Saputro
30 - 04 - 2012


perang

seharusnya aku bersyukur
udara pagi yang ku hirup bukanlah asap meriam
cahaya matahari yang terbit bukanlah api senapan

seharusnya aku bersyukur
aku terlahir di ranjang yang nyaman
bukan di medan perang

tak sepantasnya aku mengeluh
sakit yang kurasa di jantung ini karena cinta
bukan karena peluru tajam

tak sepantasnya aku mengeluh
dengan lauk sederhana di meja makan
bukan sarapan dengan daging saudara atau tetangga
dan minumanya darah segar dari jantung manusia

tak sepantasnya aku bosan
dengan mendengar ribuan lagu yang sama setiap harinya
dari pada mendengar alunan nada tembakan sebagai gitar
meriam sebagai drumnya dan serdadu adalah vokalisnya

tak seharusnya aku aku mencela nikmat tuhan
melihat di sana ada yang tersiksa demi mengesakan namanya

aku terlahir di bumi yang hijau, saat semuanya sudah damai
udara yang ramah dan penuh keindahan alam
aku tak terlahir di negara sebrang sana yang sedang dalam peperangan
setiap harinya diliputi rasa was was dan cemas

tapi yang ku lihat di sini, di negri ini adalah orang yang ingkar
orang yang rakus, dan orang yang buta
kerjanya hanya mengeluh, mencela, dan merampas
seakan hidup selamanya di surga dunia ini

bukankah hidup teramat singkat
sesingkat peluru keluar dari mulut pistol menuju jantung

apa kata orang di sebrang sana
mungkin dia berkata
wahai gembel ibu kota yang hanya makan seadanya
lebih baik aku menjadi dirimu dari pada aku berada di sini
aku seperti sudah berada di neraka walau belum mati

by : Septo Isdi Saputro
30 April 2012



Sabtu, 28 April 2012

Bunga Musiman


seperti bunga yang menghiasi jalan
diriku hanya mekar pada musimnya
untuk mengindahkan pesona dunia
demi terciptanya keindahan langkah setiap yang tersendu


sehabis musim dingin datang
melelehlah salju salju menjadi tetesan air mata
tetesan airmata membasahi tanah tandus dan sedikit rumput
lalu disitulah aku mulai tumbuh
menjalar dan berbunga
ada beberapa yang merawat dan menyirami diriku
ada beberapa yang memetikku untuk dijadikan hiasan merah indah
ada beberapa yang menginjakku dan mengacuhkan merah mahkotaku


pada saat musim panas datang
sebagian dari diriku mulai layu
yang masih mekar hanya sisa sisa bunga kenangan
yang akarnya kuat bertahan hidup dengan rasa sakit
namun bunga itu tetap mengiasi dan mengindahkan jalan
memberikan oksigen dan warna warni kehidupan


sampai akhirnya bunga itu gugur pada musim gugur
ketika itu angin yang dahsyat datang
tidak ada lagi yang melangkah di jalan tempatku tumbuh
semua menghentikan langkahnya dan bertahan di dalam kehangatan kasih sayang
tak ada yang mencoba menyelamatkanku atau membawa ku pulang
mereka berlindung dari musim dingin yang akan segera datang
belum sampai pada musim dingin
aku telah tiada dengan sedikit duka dan luka
namun aku akan tetap ada pada musim berikutnya
memberikan keindahan dari segala pelipulara
aku adalah bunga musiman yang tumbuh dari tetesan airmata.

by : Septo Isdi Saputro

28 - 4 - 2012